Pengalaman Naik Kapal Tilongkabila yang Keren dan Besar

Guru buat saya, sekarang bukan tetap figur yang berdiri mengajar di ruangan kelas. Guru bisa saja satu kapal besar dengan beberapa pengalaman bernilai di dalamnya. Nama guru baru kami ialah Tilongkabila.

Bli Komang menjemput kami di kos sewaan di seputar Kuta. Kami telah packing semua barang serta siap berlayar dengan Tilongkabila. Tilongkabila pergi dari Port Benoa Denpasar jam 09.00 serta akan mengantar kami ke arah kami. Kami selekasnya sarapan serta merencanakan boarding di pelabuhan lebih dini.

Berikut beberapa pelajaran yang saya tulis dari Kapal Tilongkabila. Tilongkabila ialah kapal penumpang yang besar sekali buat saya. Maklum, berikut pengalaman pertama saya naik kapal besar sepanjang dua hari penuh. Karenanya, saya benar-benar takjub dengan Tilongkabila. Dibikin di galangan Hebat L. Meyer, Papenburg, Jerman, tahun 1994, Tilongkabila mempunyai kemampuan penumpang seputar 400 orang. Wow, itu benar-benar besaarr menurut saya!

KM Tilongkabila ialah kapal penumpang punya PT Pelni. Semua sarana komplet ada. Dari mulai restoran, kamar yang seperti kamar hotel, bioskop, ajang diskotik, toko, TV, shower air, dan mushola ber-AC. Namun, banyak tangan jahil yang kurang bertanggungjawab jaga sarana kapal.

Kamar-kamar penumpang dibagi jadi beberapa kelas. Dari mulai kelas I sampai kelas ekonomi. Kelas I ialah kelas yang termahal. Harga tiketnya sama dengan ticket pesawat. Sebab kami mengirit anggaran, target kami ialah kelas ekonomi.

Kami tidur di ruang seperti barak besar, yang berada di setiap dek. Tidak ada batasan antar matras tidur. Mengambil saja bagian positifnya. Kami dapat bebas mengobrol, main kartu, atau ketawa terlepas bersama dengan penumpang lain tanpa ada penghambat.

Kami share ruangan dengan beberapa puluh penumpang lain di dek kelas ekonomi serta ini mengajari kami mengenai toleransi. Kadang toleransi ada juga batasannya. Saat kami tidak kuat dengan tangis bayi, berbau obat angin, panorama orang muntah, serta kepulan asap rokok, karena itu kami memiliki hak pergi bila ada peluang.

Ya, kami tak perlu geram. Kami cukup pergi serta cari ruangan lain yang kemungkinan lebih baik buat kami. Kebetulan dek di lantai bawah masih kosong. Ke sanalah kami ke arah. Sekalinya saya merasakan salah satunya kawan saya lebih senang share ruangan dengan beberapa orang, sebab ia senang berhubungan dengan beberapa orang baru, tapi ia juga bertoleransi dengan kemauan teamnya. Yap, itu toleransi. Toleransi itu tidak memaksa kehendak, tapi tegas pada kebahagiaan sendiri, tanpa ada butuh geram pada kebahagiaan orang lain.

Kami habiskan siang itu di dek kosong dengan bermain poker serta saya ialah pemain poker yang payah. Tapi kalah atau menang, bukan pokok dari permainan. Keceriaan saat kami memainkannya, itu hal bernilai yang tidak dapat dibayar dengan uang berapa saja jumlahnya.

Mandi tertentu adalah pelajaran yang mempesona di Tilongkabila. Kami di kelas ekonomi, berarti harus share kamar mandi dengan beberapa ratus penumpang lain dari kelas ekonomi. Sebutlah saja toilet umum. Tidak kesemua orang memiliki sikap yang sama dalam jaga kebersihan. Jadi, demikianlah keadaannya. Kurang bersih. Saya yang paling repot dengan permasalahan kebersihan kamar mandi antara rekan-rekan seperjalanan juga, jadi terdidik untuk melatih diri dengan keadaan toilet yang berada di Tilongkabila. Untuk info mengenai jadwal kapal Tilongkabila bisa langsung ke keepcornwallwhole.org agar bisa dapat info kapal pelni Tilongkabila terbaru.

Uncategorized

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*