Wisata ke desa Sasak Ende Lombok

Berkunjung ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini nyatanya banyak menaruh kekayaan alam serta budaya yang unik didalamnya. Apabila mendengar kata‘ Lombok’ tentu turis teringat hendak keelokan alamnya yang makin jadi incaran turis asing.

Tidak hanya keelokan alamnya, Lombok pula kaya hendak tradisi yang masih terpelihara sampai dikala ini. Salah satunya, Desa Sasak Ende ataupun Desa Sasak Ende yang terletak di Lombok bagian Tengah. Desa Ende merupakan suatu dusun kecil yang berpenduduk kurang lebih 135 orang. Desa ini ialah tempat tinggal Suku Sasak yang pula suku asli warga Pulau Lombok. Perihal ini juga tidak begitu dikenal oleh turis luar wilayah Lombok. Penduduk desa ini menempuh kegiatan tiap hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya.

Dikelilingi pepohonan besar, turis yang berkunjung ke Desa Sasak ini disambut dengan hangat oleh masyarakat lokal yang menggunakan baju tradisional khas Lombok bercorak gelap. Di situ pula ada masyarakat yang bersedia buat mengantar turis buat berkelana Desa Sasak Ende. Berjejeran rumah- rumah khas Suku Sasak pula ada kegiatan wanita yang lagi menenun jadi panorama alam sepanjang di Desa Sasak Ende ini.

Menariknya, penduduk dari Desa Sasak Ende bukan cuma melindungi erat budaya peninggalan leluhur. Namun masyarakat desa pula masih tinggal dalam rumah tradisional Suku Sasak, yang dibuat dari bahan natural. Bahan yang bisa dengan gampang ditemui dekat tempat tinggal mereka. Dimana rumah tersebut masih berlantai tanah liat dicampur dengan kotoran kerbau, tiang- tiang kayu, bilik anyaman bambu dan atap alang- alang. Inilah yang jadi panorama alam pula karakteristik khas dari Desa Sasak Ende ini.

Pemakaian kotoran sapi dipercaya sanggup membuat lantai rumah dari tanah liat jadi lebih kokoh. Sekalian jadi bahan natural penolak serangga tercantum nyamuk. Pemakaian tanah liat ini sebab kebanyakan warga di situ memeluk agama islam serta yakin kalau manusia dibuat dari tanah. Tidak hanya itu, kotoran kerbau tersebut pula dipercaya bagaikan simbol kerja keras seseorang petani. Sebab sebagian besar warga Desa Sasak Ende hidup bagaikan petani serta peternak.

Sebaliknya atap yang terbuat dari alang- alang sanggup bertahan sepanjang 5- 8 tahun, bergantung oleh sudut kemiringan atap serta curah hujan. Sudut kemiringan atap di Desa Sasak Ende ini terbuat rendah, sebab mempunyai iktikad buat menyembunyikan pemikiran dari orang yang melalui. Sekalian membuat orang yang hendak masuk rumah menundukan kepalanya bagaikan ciri hormat kepada owner rumah.

Rumah di desa ini mempunyai desain yang sangat simpel. Sebab bagian rumah cuma terdiri dari 2 bagian, ialah, ruangan terbuka pula ruangan tertutup. Ruangan terbuka bisa digunakan bagaikan teras, ruang tamu, serta pula dijadikan tempat tidur ataupun kamar tidur pria. Sedangkan ruangan dalam buat ruang tidur perempuan, pula buat melaksanakan kegiatan seksual suami serta istri.

Berdialog menimpa rumah warga Desa Sasak Ende, di dalam rumah cuma terdapat satu ruang dengan tiang penyangga pas di tengah. Tidak terdapat jendela, cuma terdapat sedikit sinar matahari yang sukses menembus bilik- bilik. Sebagian perlengkapan rumah tangga diletakkan sekenanya di lantai, serta papan yang dipasang di bilik dinding. Sebaliknya buat dapur ataupun tempat memasak dan kamar mandi disetiap rumah, umumnya terpisah dengan rumah tempat tinggal mereka. Tidak nampak pula terdapat perlengkapan elektronik yang lain semacam tv, radio serta lain lain.

Warga Desa Sasak Ende pula memiliki tradisi yang unik, dimana pendamping suami istri diwajibkan tidur terpisah. Jangan takut, buat pendamping yang baru menikah diperbolehkan tidur bersama di dalam rumah. Hingga mereka memiliki anak, hingga pendamping wajib tidur terpisah. Bila warga Sasak Ende hendak menikah dengan orang luar kampung, wajib membayar denda yang lumayan besar.

Menariknya buat mengawali kehidupan rumah tangga di Suku Sasak ini tidaklah suatu yang gampang. Alasannya, warga di Desa Ende telah menetapkan ketentuan kalau tiap perempuan yang mau menikah harus memiliki kemampuan buat menenun. Bila belum dapat menenun hingga dilarang buat menikah. Bisa disimpulkan menenun telah jadi Ketentuan Izin Menikah di suku ini.

Kenapa perempuan Sasak harus dapat menenun? Sebab dipercaya guna buat melatih kesabaran serta pula intensitas. Semacam yang dikenal, pada pembuatan kain tenun ialah suatu yang rumit serta memakan waktu panjang. Tidak hanya itu, kala nanti telah berumah tangga, kain tenun yang terbuat oleh sang perempuan digunakan bagaikan alas ataupun selimut kala malam awal. Hingga dari itu, kanak- kanak berumur 9 tahun telah dianjurkan buat menenun.

Perihal menarik yang lain, terdapat tradisi unik yang dipunyai Suku Sasak, ialah kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak laki- laki menculik perempuan yang disukainya. Pelarian yang dicoba umumnya berlangsung sepanjang 3 hari. Sehabis itu, orangtua perempuan hendak menebus buat membicarakan kelanjutan ikatan ke jenjang yang lebih sungguh- sungguh.

Perkawinan di Dusun Ende umumnya dicoba di seputar area dusun. Pernikahan antar sepupu ataupun kerabat masih kerap terjalin. Bila terdapat seorang yang mau menikah dengan pihak luar dusun, orang tersebut diwajibkan membayar denda yang nilainya lumayan besar buat golongan warga dusun.

Saat sebelum turis meninggalkan desa ini, masyarakat lokal yang jadi pramuwisata buat turis dari Desa Sasak Ende ini hendak memusatkan turis. Masyarakat lokal hendak memandu buat merambah ruang tempat kain tenun. Setelah itu kain tersebut dijual di tempat yang biasa diketahui bagaikan koperasi Desa Sasak Ende. Seluruh kain yang terletak di koperasi tersebut terbuat oleh wanita Desa Sasak Ende. Terdapat macam- macam tipe serta motif yang dapat diseleksi cocok dengan budget buat buah tangan ataupun digunakan individu. Tidak hanya Kain, di situ pula menjual aneka anyaman dan ukiran dengan harga yang bermacam- macam, mulai dari Rp 100. 000,-

hingga Rp 1. 000. 000,-.

Wisata lombok tidak melulu menimpa tepi laut, jadi jangan kurang ingat buat tiba ke desa kecil yang sangat unik serta menarik ini. Buat dikulik lebih dalam dikala berkunjung ke Lombok.

Uncategorized

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*